Tingkat Literasi Masyarakat Rendah, Inilah 6 Dampak Buruknya

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Tingkat Literasi Masyarakat Rendah, Inilah 6 Dampak Buruknya

Jumat, 27 November 2020

Alokasi waktu membaca orang Indonesia per hari rata-rata hanya 30-59 menit. /pixabay.com/libellule789.

FOKUS HUKUM
- Dibandingkan negara-negara lain di dunia, tingkat literasi anak-anak dan orang dewasa di Indonesia tergolong rendah. Sebut saja, alokasi waktu membaca orang Indonesia per hari rata-rata hanya 30-59 menit. 

Masih kurang dari satu jam. Sedangkan, jumlah buku yang dibaca tuntas per tahun rata-rata hanya 5-9 buku (Perpusnas, 2017).


Sementara standar UNESCO meminta agar waktu membaca tiap orang sekitar 4-6 jam per hari. Sementara masyarakat di negara maju rata-rata menghabiskan waktu membaca 6-8 jam per hari. Anehnya, orang Indonesia mampu menghabiskan waktu 5,5 jam sehari untuk bermain gawai atau gadget.


Laporan “Skills Matter” dari OECD (2016) menyebut tingkat literasi orang dewasa di Indonesia berada pada posisi terendah dari 40 negara yang mengikuti program ini.

Hanya 1% orang dewasa di Jakarta yang memiliki tingkat literasi yang memadai (Level 4 dan 5);  mengintegrasikan, menafsirkan, dan mensintesis informasi dari teks yang panjang dan hanya 5.4% orang dewasa di Jakarta memiliki tingkat literasi pada level 3, yaitu dapat menemukan informasi dari teks yang panjang. Itu artinya, orang dewasa hanya terbiasa dengan bacaan dan informasi yang pendek. Bukan buku bacaan.  


Ternyata, kemajuan zaman dan teknologi canggih tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kebiasaan membaca orang. Era digital dan revolusi industri 4.0 pun tidak menjamin tegaknya budaya literasi di Indonesia.


Bahkan orang makin kaya pun belum tentu makin peduli pada budaya literasi. Justru sebaliknya, di era serba digital dan revolusi industri ini, faktanya makin banyak orang malas membaca, makin malas menulis. Perilaku baca makin terpinggirkan, budaya literasi kian dikebiri. 


Bisa jadi, orang Indonesia hari ini lebih suka berceloteh di media sosial atau menonton TV. Maka wajar bila hoaks dan ujaran kebencian kian marak.


Memang, agak sulit mengajak orang Indonesia untuk menadikan budaya literasi sebagai gaya hidup. Membangun tradisi baca, bisa jadi “jauh panggang dari api”.


Memangnya kenapa bila tingkat literasi masyarakat rendah? 


Jujur, sebenarnya agak fatal bila tingkat literasi suatu bangsa rendah. Masyarakat yang tidak literat cenderung percara pada informasi yang salah, hoaks, bahkan gemar merendahkan orang lain.


Masyaralat yang tidak literat itu berarti sulit memahami realitas, di samping tidka punya kesadaran untuk mencari solusi dari setiap masalah yang timbul.


Setidaknya, ada 6 (enam) dampak fatal bila tingkat literasi rendah, yaitu:

1. Kebodohan masyarakat yang tidak berujung dan terus-menerus.

2. Tingkat produktivitas manusia yang rendah jadi sebab sulit untuk maju.

3. Mudahnya pendidikan berhenti atau masih tingginya angka putus sekolah anak.

4. Kemiskinan yang tidak terobati bahkan makin meluas.

5. Kriminalitas dan premanisme yang meninggi jadi sebab tidak tertib masyarakat.

6. Sikap bijak yang gagal menyeleksi setiap informasi dan perilaku berkomunikasi yang emosional dan penuh sentimen. 


Maka sebagai solusi, pemerintah atau masyarakat harus memberi ruang lebih besar kepada taman bacaan masyarakat (TBM). 


Perlu dibuka taman bacaan yang lebih banyak. Harus ad akepedulian terhadap aktivitas membaca dan Gerakan literasi yang ada di taman bacaan. 


Taman bacaan adalah ujung tombak untuk mengkampanyekan tradisi baca dan budaya literasi di kalangan anak-anak dan masyarakat. Apalagi di tengah gempuran era digital. 


“Terus terang, tradisi baca dan budaya literasi masyarakat Indonesia makin ke sini makin memprihatinkan. Zaman makin canggih tapi orangnya makin jauh dari buku bacaan. Hoaks makin marak. Jadi bukti tingkat literasi kita rendah. 


Untuk itu, taman bacaan masyarakat harus diberi peran lebih besar. Untuk menghidupkan tradisi baca dan budaya menulis. Jangan biarkan gawai merampas hidup anak-anak kita. 


Siapapun harus peduli terhadap gerakan literasi” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri dan Kepala Program TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor.


TBM Lentera Pustaka yang terletak di kampung Warung Loa Desa Sukaluyu Kab. Bogor data ini memiliki 70-an anak pembaca aktif yang terancam putus sekolah akibat kemiskinan. 


Dengan alokasi waktu membaca 3 kali seminggu (Rabu-Jumat-Minggu), kini tiap anak mampu membaca 5-8 buku per minggu per anak. Padahal sebelumnya, anak-anak itu sama sekali tidak punya akses buku bacaan. 


Berbekal koleksi lebih dari 3.800 buku, TBM Lentera Pustaka bertekad terus menggalakkan tradisi baca dan budaya literasi pada anak-anak dan masyarakat. 


Selain aktivitas taman bacaan, TBM Lentera Pustaka pun memiliki program GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 11 ibu-ibu buta huruf, di samping membina 10 anak yatim sebagai binaan agar tetap bisa melanjutkan sekolah.


Jadi apapun kondisinya. Tradisi baca dan budaya literasi harus tetap tegak di bumi Indonesia. Apapun masalah yang dihadapi bangsa hari ini, intinya bertumpu pada masalah literasi. 


Karena itu, siapapun harus ikut peduli mengatasi masalah literasi di Indonesia. Salam literasi #TamanBacaan #LiterasiMasyarakat #TBMLenteraPustaka (tbm)