Percepat Inklusi Keuangan, Pemerintah Dorong Peran Fintech

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Percepat Inklusi Keuangan, Pemerintah Dorong Peran Fintech

Selasa, 10 November 2020

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Foto : Instagram @airlanggahartarto_official)

Radarbisnsi.com, Jakarta
- Teknologi Finansial atau Fintech memiliki potensi besar dalam mempercepat inklusi keuangan. Melalui penggunaan teknologi, masyarakat dapat mengakses layanan keuangan dengan aman, nyaman, dan berbiaya terjangkau.


Untuk itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengapresiasi pembentukan Indonesia Fintech Society (IFSoc).


“Selamat atas peluncuran IFSoc. Saya memiliki keyakinan bahwa ini bisa mengangkat potensi, tantangan, dan lanskap kebijakan terkait fintech di masa mendatang,” ujar Airlangga dalam acara peluncuran IFSoc secara daring, Senin (9/11/2020) di Jakarta.


Airlangga menjelaskan fintech akan terus memainkan peranan penting dalam inklusi keuangan yang sudah mencapai sekitar 76 persen. “Saya percaya kita bisa memenuhi target keuangan yang inklusif di tahun 2024 sebesar 90 persen,” terangnya.


Oleh karenanya, lanjut Menko Perekonomian, digitalisasi layanan keuangan akan menjadi isu krusial dan menjadi tantangan bersama, termasuk soal kebutuhan infrastruktur yang lebih kuat.


Ia pun menyebutkan sektor fintech merupakan salah satu sektor yang paling dinamis, kompetitif, dan menjadi bagian penting dari ekonomi digital. Pada tahun 2019, laporan Google, Temasek, dan Bain & Co menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia adalah yang terbesar dengan pertumbuhan tercepat di ASEAN.


Fintech memilki peranan besar dalam hal ini, dengan estimasi nilai sebesar $40 miliar dan pertumbuhan tahunan sebesar hampir 50 persen. “Pada tahun 2025, fintech diperkirakan bernilai lebih dari $100 miliar, didorong terutama oleh pembayaran digital, e-commerce, layanan transportasi online, distribusi barang, dan lain-lain,” papar Menko Airlangga.


Pada tahun 2020, Indonesia juga terus mengejar Singapura dalam jumlah fintech. Singapura memiliki 39% dari seluruh jumlah fintech di ASEAN, diikuti oleh Indonesia (20 persen), Malaysia (15 persen), dan Thailand (10 persen).


Kemudian dalam hal penyaluran pinjaman, akumulasi penyaluran peer-to-peer (P2P) lending mencapai lebih dari Rp100 triliun hingga September 2020, naik sebesar 113,05 persen secara year-on-year (yoy).


Di penghujung sambutannya, Menko Airlangga mengajak semua pihak untuk terus bekerja sama mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional dan mengejar pertumbuhan positif.


“Kolaborasi pemerintah, akademisi, media massa, sektor bisnis, dan masyarakat diperlukan untuk pemulihan ekonomi nasional. Termasuk dalam hal inisiatif sektor keuangan dan teknologi finansial,” tegasnya.


Sebagai rangkaian acara, diselenggarakan pula Diskusi Publik bertajuk “Peranan Fintech dalam Transformasi dan Pemulihan Ekonomi Nasional”. Menko Airlangga berharap rekomendasi dari Diskusi Publik tersebut pun bisa berkontribusi pada peningkatan peran fintech dalam pemulihan ekonomi nasional. (inf)