Pengaruhi Cashflow, UU Larangan Minol Kontraproduktif

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Pengaruhi Cashflow, UU Larangan Minol Kontraproduktif

Senin, 16 November 2020

RUU Larangan Minuman Beralkohol menunjukkan ketidakberpihakan kepada iklim dunia usaha hotel dan restoran. Pixabay/free-photos

Fokushukum.com, Jakarta
- Ketua umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Haryadi Sukamdani mengatakan, RUU Larangan Minuman Beralkohol menunjukkan ketidakberpihakan kepada iklim dunia usaha hotel dan restoran.


"Di saat dunia pariwisata sedang terpuruk, kita membutuhkan citra positif. UU ini sudah pending, dan kini banyak dipertanyakan dari sisi law maker, produsen, importir, distributor, konsumen, dan UU ini belum matang,” ujar Hariyadi, Senin 16 November 2020. dalam konferensi pers di Gedung Apindo, dilansir Bisnis.com.


Menurutnya, RUU menjadi kontraproduktif, terlebih di masa pandemi Covid-19. Sehingga berpengaruh besar pada cashflow bisnis pariwisata yang sedang terpuruk.


Sebelumnya, akibat kekhawatiran atas bahaya minuman beralkohol picu tingkat kriminalitas menjadi alasan sejumlah anggota badan legislasi (Baleg) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-) RI, mengusulkan pembahasan Rancangan Undang-Undang Minuman Beralkohol (RUU Minol).


"Berdosa kepada negara, berkhianat kepada janji kami. Berkhianat kepada sumpah kami dan berdosa kepada Allah. Makanya menurut saya ini perlu ada regulasi bisa memberikan solusi,"  kata Anggota Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Keadilan Sejahtera Bukhori Yusuf pada wartawan, ditulis, Senin 16 November 2020. (rad)