Konsumsi Ikan Diprediksi Meningkat dengan Holding BUMN Sektor Pangan

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Konsumsi Ikan Diprediksi Meningkat dengan Holding BUMN Sektor Pangan

Jumat, 13 November 2020

Inspektur Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Muhamad Yusuf. (Foto: kkp.go.id)

Radarbisnis.com, Jakarta
- Inspektur Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Muhamad Yusuf optimistis rencana holding BUMN industri pangan akan berdampak positif bagi sektor perikanan. Bahkan, dia memprediksi rencana tersebut bisa meningkatkan konsumsi ikan nasional jika dua BUMN yang bergerak dibidang perikanan, Perum Perindo dan Perinus digabungkan.


"Melalui penggabungan ini, BUMN memiliki modal besar guna menyerap seluruh hasil tangkapan nelayan," kata Yusuf di Jakarta, Jumat (13/11/2020).


Saat mengisi FGD konsolidasi BUMN Pangan di Hotel Ritz Carlton, Kamis kemarin, Yusuf menyebut serapan tangkapan nelayan oleh holding BUMN pangan bisa dikirim ke Jakarta dan kota lain. Alhasil, ketersediaan ikan di pasar melimpah dan menimbulkan efek ganda yaitu harga ikan di pasar menjadi murah dan kemampuan masyarakat membeli ikan melonjak.


“Dengan begitu, konsumsi ikan nasional menjadi meningkat. Apalagi kampanye Gemar Makan Ikan kembali digaungkan. Budaya makan ikan akan terdongkrak,” sambungnya.


Yusuf mengungkapkan, sektor pangan Indonesia mengalami peningkatan posisi pada Global Food Security Index. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan ketahanan pangan nasional.


Salah satu kontribusinya adalah pada peningkatan konsumsi pangan berbahan ikan yang diproyeksikan akan tumbuh hampir 2 kg per kapita dari 39,0 kg per kapita menjadi 40,9 kg per kapita. Angka ini lebih tinggi dari proyeksi peningkatan konsumsi pangan berbahan daging yang masing-masing hanya tumbuh 0,8 kg per kapita untuk daging unggas dan 0,2 kg per kapita untuk daging sapi.


"Penangkapan ikan juga bakal lebih banyak lantaran holding BUMN memiliki modal kerja. Antara lain sarana seperti kapal berukuran > 150 GT yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan penangkapan ikan di Zona Ekonomi Eksklusif," urainya.


Dampak lain dari holding ini, kata Yusuf, bisa mengefektifkan fasilitas SKPT yg telah dibangun KKP di Natuna, Talaud dan Saumlaki, untuk dijadikan lokasi ekspor ikan ke luar negeri tanpa harus ke Jakarta terlebih dahulu. Dengan begitu, dapat meningkatkan nilai jual atau harga ikan karena ikan masih segar sehingga hemat biaya dan waktu.


Yusuf menambahkan, fasilitas lain yang dimiliki KKP juga dapat dikerjasamakan dengan holding BUMN Pangan, baik pemanfaatan melalui skema bagi hasil atau dihibahkan.


"Kerja sama bisa berupa pemanfaatan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT), cold storage, laboratorium serta pemanfaatan hasil riset," terangnya.


Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin mengatakan, holding pangan sektor perikanan akan mendukung ekspansi areal penangkapan ikan dan membangun fasilitas pendukung oleh BUMN. Terlebih saat ini, fasilitas perikanan masih terkonsentrasi pada wilayah barat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.


“Oleh karena itu, Holding BUMN akan memperluas wilayah perikanan dan mengembangkan fasilitas pendukung untuk meningkatkan produksi wilayah Indonesia timur,” kata Budi.


Senada, Asisten Deputi Bidang Industri Pangan dan Pupuk Kementerian BUMN Imam Paryanto berharap konsolidasi BUMN Pangan bisa meningkatkan peran dan kontribusi BUMN pangan terhadap tujuan kebijakan pemerintah. Terlebih dengan holding ini, BUMN mampu bertransformasi lebih kuat dari sisi aset, dana, proses bisnis dan pemanfaatan aset lahan maupun pabrik.


Sementara Direktur Utama Perum Perindo Fatah Setiawan T. memastikan pihaknya tengah bersiap diri untuk menjadi bagian dari Holding BUMN Pangan dengan mematuhi seluruh syarat yang diminta oleh Kementerian BUMN. Terlebih Kementerian BUMN telah menunjuk Perum Perindo sebagai satu-satunya BUMN di bidang perikanan setelah Perinus masuk ke Perum Perindo dengan sistem merger.


"Kami optimistis dengan konsolidasi holding ini akan meningkatkan kinerja Perum Perindo dari sisi penjualan, pemasaran, laba, distribusi produk, hingga ketersediaan produk Perum Perindo di pasaran," kata Fatah.


Tak hanya konsen di sisi penjualan, Fatah memastikan Perum Perindo juga memiliki usaha eksisting yakni budidaya ikan dan udang serta pengelolaan pelabuhan perikanan. Dengan konsolidasi dan merger dengan Perinus, Perum Perindo akan memiliki satu usaha tambahan yaitu perikanan tangkap.


Selain mengembangkan fasilitas produksi, Holding BUMN Pangan juga akan mengembangkan fasilitas pemrosesan untuk mengembangkan produk hilir serta mengembangkan kapabilitas logistic cold chain untuk meminimalisir loses logistik.


“Kami menargetkan pendapatan kami meningkat 20% pada 2021,” tandasnya. (kkp)