Butuh Permodalan, Ekraf Bidang Agroindustri agar Lebih Diperhatikan

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Butuh Permodalan, Ekraf Bidang Agroindustri agar Lebih Diperhatikan

Senin, 23 November 2020

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf Macan Effendi. /Instagram.com/@ddyusuf66.

RADAR BISNIS
- Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi mendorong pemerintah untuk mengembangkan ekonomi kreatif di bidang agroindustri. 


Pasalnya, 40 persen pekerja Indonesia berada di bidang agroindustri dan membutuhkan dukungan pemerintah seperti akses permodalan agar mereka bisa terus berkarya.


"Ekonomi Kreatif berkembang begitu pesat tetapi belum menyentuh sektor pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan. Padahal, hampir 40 persen pekerja Indonesia berada pada sektor agroindustri. Jadi kalau ada yang buat kreatifitas di bidang pertanian harus diberikan dukungan, beri modal, juga beri akses," kata Dede saat mengikuti rapat Panja Penguatan Ekonomi Kreatif Komisi X DPR RI, Senin, 23 November 2020.


Disampaikan Dede, saat sedang melakukan perjalanan ke China, dirinya melihat alat pertanian yang digunakan di negara Tirai Bambu itu dibuat oleh industri dalam negeri China itu sendiri. 

Politikus Fraksi Partai Demokrat itu mengharapkan hal yang serupa terjadi di Indonesia. Dimana, pemerintah memberikan dukungan serta perlindungan kepada pelaku ekraf dalam negeri.


Ia tidak menginginkan karya anak bangsa lebih mendapatkan aspirasi dari nergara lain dibandingkan dari negeri sendiri. 

"Di dapil saya ada pengrajin golok, namun tidak didukung. Karena tidak mendapat dukungan kemudian ada negara tetangga yang tertarik, si pengrajin dibawa ke negaranya. Jangan sampai hal-hal ini terus terjadi, makanya perlindungan itu sangat penting," jelasnya.


Dalam rapat itu, legislator dapil Jawa Barat II itu juga menyinggung tentang strategi pengembangan identitas atau ikon produksi ekraf ke pasar lokal dan luar negeri dengan menjadikan jumlah masyarakat Indonesia sebagai pasar utama produk Ekraf.


"Kita mendorong Kemenparekraf untuk mengembangkan ikon produk ekraf ke pasar luar negeri mungkin dengan menggunakan kata 'Indo' di setiap produk sehingga orang mengenal Indonesia. Selain itu kami juga meminta pemerintah merumuskan strategi pemasaran lokal dengan menjadikan jumlah masyarakat Indonesia sebagai pasar utama produk Ekraf," tutupnya. (dpr)