Ada Beda Skema Eksplorasi Migas antara Mesir dan Indonesia

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Ada Beda Skema Eksplorasi Migas antara Mesir dan Indonesia

Rabu, 18 November 2020

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif. (Foto: esdm.go.id)

Radarbisnis.com, Jakarta
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, ada perbedaan skema eksplorasi cadangan minyak dan gas (migas) antara Indonesia dan Mesir.


Menurut  Dirjen Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji, Mesir telah menerapkan aturan yang cukup fleksibel bagi perusahaan yang melakukan eksplorasi migas.


"Jadi sudah ada chemistry atau ketertarikan yang baik antara perusahaan dan pemerintah," kata  Tutuka dalam keterangannya, Selasa 17 November 2020.


Menurutnya,  Mesir tak menggunakan skema cost recovery untuk proyek yang bernilai cukup besar.


"Untuk mega proyek dilakukan dengan tidak cost recovery. Itu karena mega proyek, investor cenderung bergerak cepat, cutting cost," ujarnya.


Sementara, pemerintah menerapkan dua skema di Indonesia, yakni cost recovery dan gross split. Investor bisa memilih skema yang mau digunakan untuk kontrak migas.


Aturan itu tercantum dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga Atas Permen ESDM Nomor 8 Tahun 2017 tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split. 


Dalam skema gross split, kontraktor akan menanggung seluruh beban biaya operasional. Sementara, dalam skema cost recovery, biaya operasional yang dikeluarkan oleh kontraktor di awal akan dikembalikan pemerintah nantinya.


Ini merupakan aturan baru yang diterapkan pemerintah. Sebelumnya, skema kontrak yang bisa dipilih hanya gross split. 


Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif mengatakan Indonesia masih membutuhkan kegiatan eksplorasi untuk mencari sumber cadangan energi baru.


Namun, berdasarkan data SMI Global Market Intelligence, biaya eksplorasi di Indonesia selama 20 tahun terakhir hanya 1 persen dari dana yang digunakan perusahaan tambang swasta.


"Selama 20 tahun terakhir, total biaya eksplorasi di Indonesia hanya 1 persen dari biaya eksplorasi perusahaan tambang swasta dunia," kata Arifin dalam keterangannya, usai Peluncuran Buku An Introduction into the Geology of Indonesia oleh Prof. Dr. R. P. Koesoemadinata. (inf)