Indonesia Targetkan Investasi Migas Masuk Senilai US$70 Miliar

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Indonesia Targetkan Investasi Migas Masuk Senilai US$70 Miliar

Senin, 24 Agustus 2020

Proyeksi investasi hulu migas tahun ini senilai US$11,6 miliar. (Foto : Instagram @humasskkmigas)

Radarbisnis.com, Jakarta - Indonesia menargetkan investasi baru di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) hingga US$ 70 miliar dalam jangka panjang.


Meski proyeksi investasi hulu migas tahun ini masih senilai US$11,6 miliar, namun Indonesia kini memiliki setidaknya empat proyek strategis hulu migas skala besar dengan total nilai investasi mencapai US$ 37,21 miliar. 


Menurut  data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada Minggu (23/08/2020), ada empat proyek strategis hulu migas berskala besar yang saat ini tengah dikembangkan investor, antara lain:


1. Proyek Gas Jambaran Tiung Biru


Ini merupakan proyek unitisasi dua lapangan yakni Lapangan Jambaran dan Lapangan Tiung Biru, Blok Cepu, Jawa Timur, yang dikelola PT Pertamina EP Cepu.


Sampai Juni 2020, proyek unitisasi dua lapangan gas ini mencapai 66,62 persen dan diperkirakan bisa mulai beroperasi pada kuartal keempat 2021.


2. Proyek Indonesia Deep Water Development (IDD)


Proyek terletak di Kutai Basin, lepas pantai Kalimantan Timur ini terdiri dari Lapangan Bangka, Gendalo Hub dan Gehem Hub yang dikembangkan Chevron Indonesia Company Ltd. Chevron .


Berdasarkan data SKK Migas, saat ini proyek ini sedang dalam tahap proses evaluasi persetujuan revisi Rencana Pengembangan (Plan of Development/ PoD ) I dan juga proses evaluasi usulan perpanjangan Blok Rapak dan Blok Ganal.


Bila Gendalo dan Gehem Hub ini beroperasi, maka diperkirakan bisa menghasilkan gas sebanyak 844 mmscfd dan 27.000 barel minyak per hari.


Hingga saat ini SKK Migas masih menargetkan proyek ini secara keseluruhan bisa beroperasi pada kuartal keempat 2025.


Adapun nilai proyek ini diperkirakan sebesar US$ 6,98 miliar.


3. Train 3 LNG Tangguh


Ini merupakan proyek ekspansi dari kilang gas alam cair (LNG) Tangguh di Teluk Bintuni, Papua Barat yang dioperasikan BP Berau Ltd. Saat ini proyek pembangunan kilang di darat telah mencapai 83,27 persen dan fasilitas di laut 98,15 persen.


Proyek ekspansi ini diperkirakan menghasilkan gas 700 mmscfd dan 3.000 barel minyak per hari. Produksi gas dari train 3 Tangguh ini setara dengan 3,8 juta ton LNG per tahun (mtpa). Saat ini BP telah mengoperasikan dua train dengan kapasitas masing-masing sebesar 3,8 mtpa. Bila train tiga ini beroperasi, maka total LNG yang dihasilkan mencapai 11,4 juta ton per tahun.


SKK Migas sampai saat ini masih menargetkan train 3 Tangguh ini bisa mulai beroperasi pada kuartal keempat 2021. Adapun nilai investasi dari proyek ini yaitu US$ 8,9 miliar.


4. Lapangan Gas Abadi, Blok Masela


Ini merupakan salah satu proyek hulu migas yang sudah lama tertunda. Pasalnya, kontrak pengelolaan blok ini telah ditandatangani sejak 1998 oleh Inpex dan mulai menemukan cadangan sejak 2000 setelah pemboran sumur eksplorasi pertamanya, namun hingga saat ini belum bisa berproduksi.


Setelah proses kajian bertahun-tahun, akhirnya pemerintah memberikan persetujuan revisi Rencana Pengembangan (Plan of Development/ PoD) I kepada Inpex pada 5 Juli 2019.


Proyek gas yang dikelola Inpex Masela Ltd ini telah memperoleh Surat Keputusan (SK) Penetapan Lokasi Pengadaan Tanah untuk Pelabuhan Kilang LNG Abadi pada 1 Juni 2020 dari Gubernur Maluku, di mana lokasi pelabuhan ditetapkan di Pulau Nustual Desa Lermatang, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.


Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, salah satu untuk jajaran anyar PT Pertamina (Persero) yang baru dirombak adanya membangun kilang-kilang minyak.


"Proyek penting Pertamina ya bangun kilang," ujarnya. 


Di samping itu, ia mengatakan masih banyak tugas yang mesti dilakukan jajaran perusahaan energi pelat merah tersebut. (inf)