ESDM Belum Bahas Kelanjutan Proyek Blok Masela, Alasannya?

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

ESDM Belum Bahas Kelanjutan Proyek Blok Masela, Alasannya?

Kamis, 06 Agustus 2020

Menteri ESDM, Arifin Tasrif. (Foto : esdm.go.id)

Radarbisnis.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih belum membahas mundurnya dua investor dari proyek Blok Masela, dan Indonesian Deap Water Development (IDD).

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Ego Syahrial, enggan  meladeni pertanyaan terkait kelanjutan dua proyek besar, yaitu Blok Masela dan Indonesian Deepwater Development (IDD). 

Sedangkan, Kepala Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas, Dwi Sutjipto dalam keterangannya, Kamis (6/8/2020), mengatakan  kelanjutan Blok Masela saat ini masih dalam tahap pembebasan lahan.

Di sisi lain, sayangnya partner Inpex dalam pengembangan Blok Masela, Royal Dutch Shell malah ingin menawarkan hak partisipasi mereka ke pihak lain.

Untuk itu, Shell mengajukan akses open data ke Kementerian ESDM.

"Iya, ada yang mengakses open data hak partispasi Shell di blok masela. Tapi untuk yang dari overseas ini belum. Ini belum dapat persetujuan dari ESDM," ujar Dwi.

Namun, Dwi mengatakan untuk open data yang mengakses investor dalam negeri sudah bisa dilakukan karena pemerintah sudah memberikan izin akses buka data ini. Namun, kata Dwi dalam kasus Blok Masela ini yang akan masuk untuk menjadi mitra baru Inpex adalah investor luar negeri. 

Maka, open data untuk overseas atau investor luar negeri baru bisa dilakukan kalau ESDM sudah memberikan izin.

"Kan kalau popen data ini dari indonesia sudah oke, sudah ada persetujuannya. Dari overseas belum. Padahal kan calon pemebli kan dari luar negeri kan. yang buka data dari luar negeri ini belum dapat persetujuan dari ESDM," ujar Dwi.

Sedangkan untuk proyek IDD, sampai hari ini juga ESDM menyampailan soal kelanjutan proyek  tersebut.

Padahal, IDD sudah menyatakan kepada publik bahwa proyek IDD tidak mampu bersaing dalam portofolio global.

Sedangkan Manager Corporate Communication Chevron Pasific Indonesia, Sonitha Poernomo, menjelaskan perusahaan tak dapat modal yang cukup dari Chevron Ltd untuk bisa mengembangkan proyek IDD.

Sedangkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, meminta agar target produksi Blok Masela dipercepat menjadi tahun 2026 atau setahun lebih cepat dari target awal 2027. Arifin menegaskan percepatan itu bertujuan untuk memperoleh pendapatan.

"Supaya dapat revenue, kalau bisa 2026 ya 2026, tapi targetnya 2027," ungkapnya.

Menurut Arifin, PLN akan menyerap 2-3 million ton per annum (MTPA). Gas ini bakal digunakan untuk pembangkit karena akan banyak pembangkit PLN yang menggunakan gas.

 Arifin mengatakan, selain PLN, Pupuk Indonesia juga akan menyerap dengan besaran 150 juta MMSCFD. Soal harga, Arifin mengatakan akan mengikuti harga pasar. (inf)