Pelemahan Rupiah Bagus bagi APBN, kalau Menguat Malah Bikin Ambyar. Mengapa?

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Pelemahan Rupiah Bagus bagi APBN, kalau Menguat Malah Bikin Ambyar. Mengapa?

Sabtu, 06 Juni 2020

Menkeu Sri Mulyani sempat menyatakan bahwa pelemahan rupiah sangat menguntungkan APBN. (Foto : Instagram @metaproject.id)


Radarbisnis.com, Jakarta - Rahasia pemerintahan Jokowi ada pada pelemahan rupiah. Pemerintah mengambil untung dari pelemahan rupiah. Keuntungan diperoleh terutama dari aliran uang asing yang masuk ke dalam obligasi negara. Selebihnya aliran penerimaan negara yang berasal dari sektor komoditas seperti minyak batubara dan sawit serta hasil tambang lainnya. 

Lihat pandangan Sri Mulyani Menteri Keuangan Jokowi menyatakan bahwa pelemahan rupiah sangat menguntungkan APBN, semakin melemah semakin besar manfaat yang diterima APBN. Demikian jurus pelemahan rupiah ini digunakan Sri Mulyani untuk menolong APBN Pemerintahan Jokowi dari kebangkrutan. 

Selama lima tahun terakhir Pemerintahan Jokowi praktis ditopang oleh pelemahan rupiah. Pemerintahan ini bertahan karena rupiah melemah dari rata rata 10 ribu rupiah per dolar Amerika Serikat pada masa pemerintahan SBY, menjadi rata rata 14 ribu rupiah pada masa Pemerintahan Jokowi. 

Mengapa ditopang? karena andalan pemerintah adalah utang terutama utang dalam valuta asing. Pemerintah mengesankan bahwa APBN baik, atau setidaknya tidak stagnan jika diukur dalam mata uang rupiah. Meski kenyataannya jika diukur dalam dolar AS, APBN sudah merosot turun tajam. Satu-satu nya uang masuk makin besar ke dalam APBN adalah dari utang. 

Pelemahan rupiah juga menopang penerimaan negara dari minyak dan batubara, dua komoditi kunci yang menyumbang paling besar pada pendapatan negara baik dalam bentuk pajak maupun PNBP. 

Dua komoditi ini dijual dalam dolar AS, ketika rupiah merosot terhadap dolar penerimaan negara dari dua komoditi ini membaik, meskipun harga dua komoditi ini relatif stagnan pada tingkat harga yang rendah dalam lima tahun terakhir. 

Demikian juga komoditi ekspor lainnya juga sangat bergantung pada pelemahan rupiah. Di tengah pelemahan ekonomi global saat ini akibat covid 19, maka harga seluruh komoditas akan stagnan setidaknya dua tahu ke depan. Minyak bahkan telah melemah jauh sebelum covid 19 dan akan terus melemah seiring perubahan tatanan keuangan global. 

Sehingga pelemahan rupiah tetap akan menjadi tempat bagi pemerintah menyadarkan penerimaan APBN agar stabil atau agar tidak merosot semakin dalam. Ini adalah rahasia besar. Kalau ada swasta non komoditi atau BUMN non komoditi yang terkena dampak akibat pelemahan rupiah, bagi pemerintah adalah masalah lain. Prioritas utama adalah APBN selamat.

Sehingga pemerintah berharap keseimbangan rupiah sebagaimana yang tercermin dalam seluruh regulasi covid 19 berada pada nilai 17 ribu rupiah sampai 18 ribu rupiah per dolar Amerika. Kalau bisa 20 ribu tentu APBN tambah aman toh? Kalau APBN sekarang namanya terkena tekakan darah rendah, bisa mati lemas.  Silakan simulasi untuk mendapat koefisien konstanta nya secara pasti. Atau mau diitungin?

(Oleh : Salamudddin Daeng, Ketua Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia)