Jaga Keseimbangan, Bagaimana Akuntabilitas Kebijakan Subsidi?

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Jaga Keseimbangan, Bagaimana Akuntabilitas Kebijakan Subsidi?

Kamis, 18 Juni 2020
Anggota Komisi V DPR RI, Ahmad Syaikhu. (Foto: Instagram @syaikhu_ahmad_)
Radarbisnis.com, Jakarta - Di Indonesia, kebijakan subsidi merupakan instrumen kebijakan fiskal dalam rangka menjaga pemerataan terhadap akses ekonomi dan pembangunan. Subsidi diperuntukkan untuk melakukan koreksi terhadap ketidaksempurnaan pasar.

Subsidi energi di Indonesia dalam satu dekade terakhir mencapai angka lebih dari seratus triliun rupiah setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2014 angka subsidi energi mencapai angka Rp 246,5 triliun atau 2,8 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau setara dengan belanja di lebih 5 kementerian lembaga.

Guna mendapatkan masukan terkait subsidi energi dan melihat lebih jauh efektifitas kebijakan dan metode pemberiaan subsidi energi yang diterapkan oleh pemerintah, Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum dengan beberapa pakar dan narasumber.

Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI Ahmad Syaikhu menegaskan, kebijakan subsidi haruslah tepat sasaran. Manfaat subsidi energi mesti bisa dirasakan oleh kelompok masyarakat miskin di Indonesia.

“Pada prakteknya, terjadi anomali dan disorientasi sasaran pada kebijakan subsidi di Indonesia, yang justru keluar dari konteks proteksi terhadap kelompok masyarakat miskin. Manfaatnya jatuh pada kelompok yang tidak semestinya,” ucap Ahmad Syaikhu di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (17/6/2020).

Meskipun di satu sisi subsidi dipandang sebagai bantuan sosial, tambah syaikhu, namun kebanyakan subsidi energi Indonesia lebih bersifat regresif. Dengan kata lain hanya menguntungkan kelompok berpendapatan tinggi secara tidak proporsional, sebagai akibat dari subsidi tidak tepat sasaran yang tidak menjangkau kalangan miskin.

“Pada saat yang sama, mekanisme harga tetap juga mendorong konsumsi energi yang boros dan sia-sia, dimana hanya memberikan sedikit insentif untuk meningkatkan efisiensi energi atau mengurangi emisi gas rumah kaca domestik, dan berkontribusi pula terhadap memburuknya neraca perdagangan Indonesia,” ujarnya.

Menanggapi pertanyaan tertulis dari Anggota Dewan tentang dampak subsidi energi terhadap kesejahteraan rakyat, Enny Sri Hartati selaku salah seorang pakar yang diundang hadir dalam RDPU tersebut menyampaikan bahwa kebijakan energi tidak hanya soal harga murah, namun juga harus menuju kemandirian energi. Enny juga mendorong adanya bauran energi dalam rangka meningkatkan penggunaan energi terbarukan. (dpr)