Gawat, WHO Nyatakan Situasi Pandemi Corona Memburuk di Seluruh Dunia

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Gawat, WHO Nyatakan Situasi Pandemi Corona Memburuk di Seluruh Dunia

Senin, 08 Juni 2020
Ketua WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Foto : Instagram @who)


Radarbisnis.com, Jakarta – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap bahwa situasi pandemi virus Corona semakin memburuk di seluruh dunia. WHO mencatat jumlah tertinggi infeksi virus Corona baru setiap hari, termasuk di Amerika.
Dilansir dari AFP, bahkan ketika aksi protes massal untuk menegakkan keadilan rasial di AS dan sekitarnya, PBB telah mengingatkan untuk tetap melakukan aksi dengan aman.
Virus corona telah menewaskan lebih dari 403.000 orang dari setidaknya tujuh juta yang terinfeksi sejak wabah itu muncul di China Desember lalu. Setelah Asia Timur, Eropa sempat menjadi pusat penyakit. Namun, kini pusat penyebaran virus corona telah berpindah ke Amerika.
“Meskipun situasi di Eropa membaik, secara global keadaannya memburuk,” kata Ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers virtual di Jenewa, Selasa (9/6/2020).
Ghebreyesus menambahkan lebih dari 100 ribu kasus baru telah dilaporkan sepanjang sembilan dari 10 hari terakhir.
“Kemarin, lebih dari 136.000 kasus dilaporkan, paling banyak dalam satu hari sejauh ini,” ungkapnya.
Dia mengatakan bahwa hampir 75 persen kasus datang dari 10 negara, kebanyakan di Amerika dan Asia Selatan. Ghebreyesus mengatakan bahwa di negara-negara di mana situasinya membaik, ancaman terbesar adalah rasa puas diri. Pasalnya, kebanyakan orang secara global masih rentan terhadap infeksi.
“Lebih dari enam bulan dalam pandemi ini, sekarang bukan saatnya bagi negara mana pun untuk melepas pijakannya,” katanya.
Beralih ke gelombang protes yang dipicu oleh pembunuhan terhadap George Floyd pada 25 Mei, Ghebreyesus mendorong pengawasan aktif terhadap virus terutama dalam konteks pertemuan massal.
“WHO sepenuhnya mendukung kesetaraan dan gerakan global melawan rasisme. Kami menolak segala bentuk diskriminasi. Kami mendorong semua yang melakukan protes di seluruh dunia untuk melakukannya dengan aman,” paparnya.
WHO terus menerus menekankan pentingnya melacak mereka yang mungkin telah melakukan kontak yang berkelanjutan dan dekat dengan orang yang terinfeksi.
Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan mengatakan seseorang yang telah melakukan protes massal belum tentu memenuhi definisi teknis dari kontak.
“Itu kembali ke analisis kesehatan masyarakat setempat dan manajemen risiko lokal,” katanya.
“Mungkin ada situasi dengan pertemuan massal di mana pejabat kesehatan masyarakat setempat, atas dasar kehati-hatian, bisa menyarankan orang baik untuk karantina atau untuk diuji.”
Sementara itu, Ghebreyesus mengatakan bahwa WHO sejauh ini telah mengirim lebih dari lima juta item alat pelindung diri ke 110 negara.Badan kesehatan global tersebut bertujuan untuk mengirimkan lebih dari 129 juta item APD ke 126 negara. (rad)