BI Paparkan Indikator yang Bakal Bikin Ekonomi RI Membaik Kuartal III

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

BI Paparkan Indikator yang Bakal Bikin Ekonomi RI Membaik Kuartal III

Senin, 22 Juni 2020
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. (Foto : Kumparan.com)


Radarbisnis.com, Jakarta - Bank Indonesia mengungkapkan sejumlah indikator yang akan mendorong perekonomian Tanah Air pada kuartal III hingga IV tahun ini mulai membaik, sehingga diperkirakan akan membawa pengaruh positif untuk tahun 2021.

“Kami perkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2020 pada kisaran 0,9 hingga 1,9 persen,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (22/6/2020).

Menurut dia, indikator yang mendorong pemulihan ekonomi dimulai pada kuartal ketiga tahun ini adalah adanya relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berlaku di sejumlah daerah, khususnya di DKI Jakarta.

Kebijakan pelonggaran PSBB tetap memperhatikan protokol kesehatan yang aman untuk mendukung kinerja yang produktif.

Selain PSBB yang dilonggarkan, stimulus fiskal dari pemerintah dan moneter dari Bank Indonesia diperkirakan turut mendorong pemulihan ekonomi mulai triwulan III tahun 2020.

Pemerintah sebelumnya menganggarkan Rp695,20 triliun sebagai stimulus dalam penanganan COVID-19 termasuk di dalamnya program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) bagi sektor kesehatan, perlindungan sosial, hingga insentif bagi dunia usaha khususnya UMKM.

Sementara itu stimulus moneter yang baru-baru ini dikeluarkan BI di antaranya menurunkan suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) menjadi 4,25 persen.

Sejak Juli 2019 hingga Juni 2020 bank sentral ini total sudah menurunkan 175 basis poin suku bunga acuan.

Dengan penurunan ini diharapkan mendorong perekonomian hingga menurunkan biaya untuk belanja suku bunga untuk APBN khususnya SBN tenor satu tahun.

Bank Indonesia juga sudah menyuntikkan likuiditas kepada perbankan hingga Mei 2020 mencapai Rp583,5 triliun, termasuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) baik rupiah dan valas sehingga menambah likuiditas bank.

Neraca pembayaran untuk kuartal kedua tahun ini, lanjut dia, juga akan lebih baik dengan defisit transaksi berjalan yang diperkirakan menurun terlihat dari data per Mei 2020 neraca perdagangan RI surplus 2,09 miliar dolar AS.

Arus modal asing masuk ke Indonesia juga semakin mengalir dengan investasi portofolio hingga 15 Juni 2020 sudah ada 7,3 miliar dolar AS sehingga cadangan devisa juga meningkat menjadi 130,5 miliar dolar AS.

Dengan indikator itu, maka ia optimistis pada tahun 2021 pertumbuhan ekonomi RI akan kembali naik pada rentang positif yakni kisara 5-6 persen.

“Ini didorong oleh perbaikan ekonomi global dan stimulus kebijakan pemerintah dan BI, ” katanya. (ant)