Setelah Idul fitri, Moda Transportasi Terapkan Protokol New Norma

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Setelah Idul fitri, Moda Transportasi Terapkan Protokol New Norma

Selasa, 19 Mei 2020


Seluruh calon penumpang yang akan menggunakan kapal PELNI diwajibkan untuk menyertakan surat keterangan sehat.  (Foto : Instagram @pelni162)

Radarbisnis.com, Jakarta – Moda transportasi mulai menyiapkan langkah – langkah berkelanjutan dalam keberlangsungan bisnis pada situasi di tengah pandemi Covid-19, yakni mempersiapkan diri untuk penerapan “New Normal Life” atau Hidup Normal Baru.
Dari moda laut, yakni PT Pelayaran Nasional Indonesia/PELNI (Persero), setelah genap dua bulan menjalankan kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) bagi pegawai daratnya, dan pemberlakuan skema port stay bergantian bagi kapal-kapal penumpangnya dengan hanya membawa angkutan logistik, saat ini tengah mempersiapkan diri untuk penerapan “New Normal Life”. Hal tersebut dilakukan guna mendukung langkah-langkah strategis Pemerintah dalam menanggulangi pandemik Covid-19 di Indonesia.
“Skenario yang sedang disusun ini ditujukan bagi seluruh karyawan, mitra kerja, dan para pelanggan kapal PELNI dengan meningkatkan penggunaan teknologi dan digitalisasi,” jelas Direktur Utama PT PELNI (Persero), Insan Purwarisya L. Tobing, Selasa (19/5/2020).
Lebih lanjut diungkapkan oleh Kepala Kesekretariatan Perusahaan PT PELNI (Persero), Yahya Kuncoro, bahwa penggunaan teknologi dan digitalisasi di lingkungan Perusahaan akan ditingkatkan guna meminimalisir adanya kontak fisik selama kegiatan kerja berlangsung. Manajemen juga mulai merencanakan flexible working time bagi seluruh karyawan PELNI.
Skenario new normal life diterapkan sebagai tindaklanjut atas surat dari Menteri BUMN No: S-336/MBU/05/2020 Perihal Antisipasi Skenario The New Normal Badan Usaha Milik Negara, pada 15 Mei 2020.
“Manajemen kini sedang menyusun strategi serta langkah-langkah yang akan dilakukan pasca lebaran nanti untuk seluruh karyawan, terutama bagi para anak buah kapal sebagai benteng dalam menjalankan kegiatan operasional Perusahaan. Selain itu kami juga menyiapkan protokol dan langkah-langkah demi keamanan para pelanggan kapal,” ungkap Yahya.
Dalam rangka mengantisipasi dampak Covid-19 yang dapat menjadikan Perusahaan mengalami fase new normal life, PELNI melakukan langkah-langkah antisipasi untuk tetap menjaga keberlangsungan bisnis Perusahaan. Maka, melalui Surat Keputusan Direksi, Manajemen telah membentuk tim task force penanganan Covid-19 dalam mengantisipasi fase new normal life di PT PELNI (Persero).
“Tim task force dibentuk dengan fungsi dan tugas untuk menyusun rencana kebijakan Perusahaan dan mempersiapkan Perusahaan dalam mengantisipasi terjadinya fase new normal life di dalam Perusahaan,” jelas Insan.
Senada dengan hal tersebut, Yahya menambahkan bahwa selama menjalani fase new normal life, karyawan yang berusia di bawah 45 tahun akan diberikan izin bekerja di kantor pasca lebaran nanti. Untuk mendukung hal tersebut, Manajemen PELNI akan lebih memperketat proses pengawasan kesehatan sesuai dengan arahan Pemerintah.
“Pelaksanaan physical distancing, kewajiban penggunaan masker selama berada di wilayah lingkungan kerja, pengecekan suhu tubuh, dan menjaga kebersihan lingkungan kerja akan kami perketat dan tentunya akan kami awasi terutama pada abk dan armada kapal,” tambah Yahya.
Sebagai langkah awal, PELNI telah menerapkan penjualan tiket non mudik bagi para penumpang yang sesuai dengan persyaratan pada SE Gugus Tugas Covid-19 No 4/2020 dan SE Dirjen Hubla No. 21/2020.
Pada tahapan ini, seluruh calon penumpang yang akan menggunakan kapal PELNI diwajibkan untuk menyertakan surat keterangan sehat ataupun keterangan negatif Covid-19 berdasarkan hasil rapid test, surat tugas yang ditandatangani pejabat setingkat eselon 2 ataupun direksi Perusahaan, serta melaporkan rencana perjalanan untuk ditunjukkan pada saat pembelian tiket. Para calon penumpang juga dianjurkan untuk melakukan pembayaran secara cashless.
“Manajemen akan menjual tiket sekitar 50 persen dari kapasitas terpasang untuk menjaga jarak antar penumpang selama perjalanan (physical distancing) dan membatasi interaksi antara petugas kapal dengan penumpang,” tutup Insan.
PELNI telah mengatur pembatasan akses bagi penumpang selama berada di atas kapal dan membatasi interaksi antara petugas dengan penumpang, serta mengatur protokol jaga jarak antar penumpang baik itu pada proses embarkasi, nomor bed, saat pengambilan makan, hingga proses debarkasi.
Senada dengan PELNI, dari moda udara, persiapan penerapan New Normal Life juga tengah dilakukan oleh PT Angkasa Pura/AP I (Persero) dan PT Angkasa Pura/AP II (Persero).
Perseroan telah menetapkan Task Force Penanganan Covid-19, dan segera merumuskan Protokol Penanganan Covid-19 terkait tiga aktivitas kebandarudaraan yaitu Operasional, Pelayanan dan Komersial, selain tentunya juga mengenai proses bisnis di internal perseroan seperti misalnya saja mengenai keputusan karyawan bekerja dari rumah dan bekerja di kantor.
“Sesuai arahan Menteri BUMN, setiap BUMN termasuk PT Angkasa Pura II saat ini sudah diminta mempersiapkan protokol guna mengantisipasi The New Normal di tengah Covid-19 sejalan dengan bidang usaha masing-masing,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin.
Awaluddin menegaskan implementasi protokol The New Normal tersebut bergantung dari keputusan resmi pemerintah atau Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.
“Protokol The New Normal BUMN memperhatikan penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan diberlakukan jika ada keputusan resmi dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 atau dari pemerintah. Belum ada tanggal pasti pemberlakukan protokol ini, baik mengenai kapan karyawan harus kembali bekerja dari kantor serta kriteria siapa saja yang harus bekerja di kantor,” ujar Awaluddin.
Lebih lanjut, Muhammad Awaluddin mengatakan protokol The New Normal di lingkungan kebandaraan akan lebih mengedepankan layanan dengan teknologi informasi dan memperhatikan pembatasan jarak fisik atau physical distancing.
“Misalnya, personel PT Angkasa Pura II di bandara akan dilengkapi seragam khusus atau APD, kemudian sistem biometrik bisa saja digunakan kaitannya dengan pelayanan, keselamatan dan keamanan penerbangan. Lalu kepada maskapai dan penumpang akan diarahkan untuk lebih menggunakan self check in kiosk, mobile check in dan web check in, dibandingkan dengan datang ke konter check in,” ujar Awaluddin.
Di samping itu, protokol The New Normal juga akan menyentuh aktivitas tenant komersial misalnya adanya kewajiban bagi tenant untuk menyediakan hand sanitizer, dan diarahkan untuk menerapkan transaksi secara nontunai (cashless) menggunakan kartu atau dompet elektronik, serta menerapkan prosedur physical distancing.
Muhammad Awaluddin menuturkan timeline implementasi protokol The New Normal ini akan diajukan ke Kementerian BUMN pada 25 Mei 2020.
“Yang jelas, kami siap mengantisipasi skenario The New Normal karena memang sudah sejak 4 tahun terakhir ini pengembangan bandara-bandara PT Angkasa Pura II mengarah ke digitalisasi untuk mewujudkan Smart Digital Airport di Indonesia,” ujar Awaluddin.
Sementara Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Faik Fahmi menjabarkan alur 5 pos pemeriksaan penumpang yang akan berangkat melalui bandara, yaitu :
1. Pos Pemeriksaan Pintu Masuk Keberangkatan
– Calon penumpang menunjukkan berkas kelengkapan dokumen perjalanan seperti identitas diri, tiket, surat keterangan negatif/ bebas Covid-19, surat tugas, surat kematian (sesuai persyaratan yang tertera pada Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nomor 4 Tahun 2020.
– Di area terminal keberangkatan, calon penumpang juga diperiksa suhu tubuhnya oleh _thermo gun_. Pada beberapa bandara, pemeriksaan suhu tubuh dilakukan menggunakan _thermo scanner_ pada saat masuk SCP1.
2. Pos Pemeriksaan Dokumen Kesehatan
– Calon penumpang menuju pos pemeriksaan kesehatan di area _check-in_ menunjukkan surat keterangan bebas/ negatif Covid-19.
– Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP)* Kementerian Kesehatan melakukan pemeriksaan kesehatan dan menerbitkan _clearance_ kesehatan.
– Calon penumpang mengisi HAC _(Health Alert Card)_/ e-HAC dipandu oleh petugas KKP.
3. Pemeriksaan Dokumen Final
Calon penumpang yang telah memiliki _clearance kesehatan_ menunjukkan seluruh berkas kelengkapan perjalanan ke pihak maskapai.
4. Proses Check-in
Calon penumpang yang telah mendapatkan _approval_ di pos pemeriksaan ketiga, selanjutnya melakukan proses _check-in_ dan mendapatkan _boarding pass_.
5. Pos Pemeriksaan Sebelum SCP 2
Penumpang yang telah memiliki _boarding pass_ diperiksa kembali kelengkapan dokumennya oleh petugas Aviation Security (Avsec) sebelum masuk pemeriksaan SCP 2.
Setelah dari pemeriksaan 5, calon penumpang dapat melanjutkan ke pemeriksaan badan dan barang di SCP2 dan kemudian masuk boarding lounge (ruang tunggu persiapan boarding). Sebagai catatan, apabila terdapat berkas yang tidak lengkap pada tiap pos pemeriksaan tersebut, maka calon penumpang tidak diperbolehkan melanjutkan ke tahap pemeriksaan selanjutnya. (pub) #mediamelawancovid19