Satgas Waspada Investasi Beri Tips agar Terhindar dari Tipuan Investasi Ilegal

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Satgas Waspada Investasi Beri Tips agar Terhindar dari Tipuan Investasi Ilegal

Kamis, 28 Mei 2020
Banyak masyarakat yang mudah tergiur dan tertipu oleh maraknnya penawaran investasi ilegal. (Foto : Instagram @ojkindonesia)

Radarbisnis.com, Jakarta – Otoritas Jasa Keungan (OJK) lewat Satgas Waspada Investasi mengatakan para investor waspada akan maraknya tawaran investasi ilegal pada masa pandemi Covid-19. Ada prinsip dua L yang harus dipegang para investor agar terhindar dari maraknya penipuan investasi ilegal.
Kepala Satgas Waspada Investasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tongam Lumban Tobing mengatakan banyak masyarakat yang mudah tergiur dan tertipu oleh maraknnya penawaran investasi ilegal. “Ada dua L yang harus dipahami oleh investor. Pertama adalah legal. Kedua adalah adalah logis,” kata Tongam dalam diskusi online “Waspada Maraknya Investasi Ilegal di Era Pandemi,” pada Kamis (28/5/2020).
Tongam menyebut di era pandemi wabah virus corona seperti saat ini, para pelaku penipuan investasi ilegal tidak mengenal kata berhenti. Bahkan mereka melihat ada peluang di tengah banyaknya masyarakat yang tengah kesulitan ekonomi dan membutuhkan penghasilan tambahan.
“Jadi kuncinya adalah dua L yang saya sebut tadi,” jelas Tongam.
Legal yang dimaksud Tongam adalah masyarakat harus proaktif untuk mengecek apakah lembaga yang menawarkan investasi tersebut telah terdaftar secara resmi di OJK. Masyarakat bisa mengeceknya di situs resmi OJK. Bagaimanapun, semua kegiatan usaha investasi harus ada izin usahanya dari OJK selaku regulator.
Kedua, logis yang dimaksud Tongam adalah apakah besaran imbal hasil atau return yang ditawarkan oleh lembaga investasi tersebut masuk akal atau tidak. Apabila ada lembaga yang menawarkan return sampai 10% per bulan atau 1 persen per hari secara tetap atau fix, masyarakat harus merasa curiga.
“Karena bunga deposito bank saja rata – rata cuma 5 persen – 6 persen setahun. Mana ada yang bisa menjamin mekanisme pasar sehingga berani menjanjikan keuntungan sedemikian besar secara fix,” ujar Tongam.
Tongam mengingatkan masyarakat bahwa semakin besar imbal hasil yang ditawarkan, maka akan semakin besar potensi resiko yang harus dipikul oleh masyarakat calon investor. Prinsip ini harus disadari betul oleh masyarakat agar tidak mudah tertipu oleh investasi ilegal yang sepintas menggiurkan.
Bagi masyarakat yang merasa tertipu oleh investasi ilegal, masyarakat harus mengusahakan agar uangnya kembali. Meskipun dalam pengalaman Satgas Waspada Investasi, uang nasabah yang bisa dikembalikan jarang ada yang bisa 100 persen.
“Kemudian kalau memang dirasa ada penipuan, silakan dilaporkan kepada polisi,” tutup Tongam. (emi)