Menkopolhukam Mahfud MD Dikritik Lagi, Bandingkan Hal yang Tidak Relevan

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Menkopolhukam Mahfud MD Dikritik Lagi, Bandingkan Hal yang Tidak Relevan

Selasa, 26 Mei 2020
Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD. (Foto : Instagram @mohmahfudmd)


Radarbisnis.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD mengungkapkan angka perbandingan kematian corona dan kecelakaan lalu lintas untuk memotivasi publik tak takut berlebihan.
Mahfud mengungkapkan, kasus kematian akibat kecelakaan lalu lintas justru lebih tinggi dibandingkan kematian akibat Covid-19.
“Angka kematian karena kecelakaan lalu lintas itu sembilan kali lebih banyak dari corona,” terang Mahfud dalam sambutannya di acara halal bihalal IKA UNS yang disiarkan di kanal YouTube Universitas Negeri Sebelas Maret, Selasa (26/5/2020).
Mahfud mengungkapkan, di Indonesia rata-rata angka kematian mencapai 4.884 orang per hari. Kendati demikian, ia tak menyebutkan sumber data tersebut.
Mahfud Md pun membandingkan angka tersebut dengan kematian akibat Covid-19 sejak awal kemunculan virus corona di Indonesia hingga 31 April yakni 131 kasus kematian.
Dengan demikian, rata-rata angka kematian akibat virus corona 17 orang per hari.
Mahfud juga mengatakan, angka kematian akibat diare di dunia lebih tinggi dibandingkan dengan Covid-19.
Menurut Mahfud, angka kematian akibat diare sejak 1 Januari hingga 31 April mencapai 560.000 orang meski dia tak menyebut sumbernya saat memaparkan data tersebut.
Mahfud menjelaskan, jumlah itu lebih tinggi daripada kematian karena Covid-19 yang hingga kini mencapai 348.965 orang berdasarkan data worldometer.
“Maksud saya, saudara jangan anggap enteng corona, tetapi juga jangan takut betul,” kata Mahfud.
Protes Politikus Demokrat
Mendengar pernyataan itu, Politikus Partai Demokrat Jansen Sitindaon protes lantaran Mahfud membandingkan kematian akibat virus corona Covid-19 dengan kecelakaan.
Jansen pun merasa heran. Ia tidak habis pikir pendapat semacam itu masih saja muncul.
Komentar atas pernyataan Mahfud MD ini disampaikan Jansen melalui cuitan yang ditulis di Twitter pada Selasa (26/5/2020).
“Ada-ada aja. Aku pikir pendapat-pendapat begini sudah lama hilang. Ternyata masih ada dan diproduksi juga,” cuit Jansen.
Ia kemudian melontarkan beberapa pertanyaan yang seakan melawan pendapat Mahfud MD.
“Kecelakaan itu nular gak pak Mahfud MD? Perlu PSBB gak? Membuat PHK gak? Sampai perlu buat Perpu agar defisit boleh lampaui 3 porsen gak? Dan lain lain,” tanya Jansen.
Cuitan Jansen ini menarik banyak warganet untuk memberikan komentar. Pantauan Suara.com, unggahan tersebut mendapat lebih dari seribu retweet dan dua ribu likes hingga Rabu 27 Mei 2020 pagi.
Sebagian besar warganet sependapat dengan Jansen. Mereka juga mempertanyakan kata-kata Mahfud MD.
Seperti komentar dari @HaszbullahM yang menulis, “Maaf prof, kecelakaan itu insident, kalau korona wabah/penyakit maka tidak bisa disamakan.”
“Kadang kita heran cara fikir seorang professor kok justru gak menunjukkan sebuah pemikiran yang ilmiah,” komentar @War16Dharma.
“Jika Mahfud MD tak khawatir dengan corona, kenapa ada pelarangan orang sholat berjamaah, orang mudik, biarkan saja kalau begitu jika kematian kecelakaan lebih banyak dari virus corona?” komentar @AChiekal.
Sebelumnya, Menkopolhukam Mahfud MD mengatakan angka kematian karena Covid-19 lebih kecil dibandingkan dengan kecelakaan lalu lintas dalam acara Halal Bihalal Keluarga Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta secara virtual pada Selasa (26/5/2020).
“Yang mati karena Corona, dari tanggal 1 Januari sampai dengan akhir April, 131 hari itu, sehari rata-rata cuma 17,” kata Mahfud.
Kemudian Mahfud mengatakan, kecelakaan lalu lintas nyatanya sembilan kali lebih banyak dari korban meninggal karena Covid-19. (rad) #mediamelawancovid19