Melawan Bertambahnya Sampah Plastik, INOV Menjaga Keuntungan di 2019

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Melawan Bertambahnya Sampah Plastik, INOV Menjaga Keuntungan di 2019

Kamis, 28 Mei 2020
INOV berdiri sebagai salah satu perusahaan yang dapat mengolah sampah plastik secara effisien. (Foto : Instagram @salisjavaddm)

Radarbisnis.com, Jakarta – PT Inocycle Technology Group Tbk (“INOV”), perusahaan yang telah tersertifikasi aspek environmental, social and governance (ESG) dari The Planet Mark, mengumumkan kenaikan pendapatan performa di tahun 2019.
Perusahaan yang memproduksi Recycled Polyester Staple Fiber (Re-PSF) mencatatkan kenaikan penjualan 25% dari Rp 395,6 miliar di 2018 ke Rp 494,7 miliar di 2019. Sementara laba tahun berjalan meningkat 40% dari Rp 16,0 miliar di 2018 ke Rp 22,5 miliar di 2019.
2019 menjadi sebuah tahun kemenangan lagi untuk pencemar plastik di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Riset dari Jambeck et. al. (2015) mengungkapkan Indonesia sebagai salah satu negara pencemar plastik terbesar di dunia. Indonesia menduduki posisi kedua sebagai negara yang kurang efisien dalam mengolah limbah plastiknya.
Pada trend yang mengkhawatirkan tersebut, INOV berdiri sebagai salah satu perusahaan yang dapat mengolah sampah plastik secara effisien. Direktur INOV Victor Choi mengatakan, “Bisnis inti Inocycle adalah menciptakan nilai- nilai dari limbah plastik PET secara lokal dan mengurangi dampak potensial terhadap pencemaran plastik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau di laut.”
Di 2019 INOV memulai babak baru dalam perjalanannya dengan mencatatkan perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Juli 2019. Sejak saat itu, jumlah saham biasa yang beredar meningkat 50% dari 1,2 miliar di 2018 menjadi 1,8 miliar di 2019.
Dari segi bisnis, hasil penjualan INOV Hasil penjualan di 2019 meningkat secara signifikan pada setiap segment produk INOV. Segmen SF- Staple Fiber menjadi contributor terbesar dengan penjualan Rp 385 miliar (29% yoy), diikuti oleh produk non-woven dengan Rp 63 miliar (20% yoy), perabot rumah dengan Rp 23 miliar (stabil), CF-Carded Fiber dengan Rp 16,5 miliar (21% yoy) dan produk lainnya dengan Rp 7 miliar (24% yoy). Semuanya membentuk kenaikan penjualan 25% dibandingkan dengan 2018.
2019 juga menjadi tahun dimana publik mulai sadar untuk mengurangi sampah plastik. Di Australia, banyak supermarket yang melarang pengunaan plastik sekali pakai. Amerika telah mengimplementasikan larangan akan plastic sekali pakai di beberapa negara bagian sejak Dan Inggris akan menyusul pelarangan plastik sekali pakai di tahun ini. Sementara itu di Indonesia, INOV telah beroperasi dalam mendaur ulang sampah plastic sejak 2011.
Terkait dampak Covid-19 terhadap bisnis INOV, Victor menjelaskan, “sejauh ini memang permintaan global terganggu, namun kami telah melakukan diversifikasi produk dengan mulai memproduksi masker dan alat pelindung diri (APD) dari polypropylene”. (nov)