Uang Negara Terlibat dalam Penggelembungan 'Bisnis Jual Beli Kertas' dan Permainan Valuasi?

Iklan Semua Halaman

Press Release dapat dikirim melalui WhatsApp atau redradarbisnis@gmail.com

Uang Negara Terlibat dalam Penggelembungan 'Bisnis Jual Beli Kertas' dan Permainan Valuasi?

Minggu, 26 April 2020
Oleh : Agustinus Edy Kristianto

Ini catatan malam Minggu. Saya baca berita di Kompas daring, kekayaan Belva Devara yang tercatat di LHKPN KPK Rp1,3 triliun (Rp1.308.449.186.139).

Terbesar adalah surat berharga dengan VALUASI Rp1.305.115.544.921. 

Tak ada utang. Tak ada tanah dan bangunan. Kas dan setara kas (deposit bank, cek, giro, mata uang dsb) Rp2,9 miliar. Harta lain Rp115 juta. Mobil HRV 2014 Rp250 juta.

Beberapa hari lalu, dia dengan gagah berkata Ruangguru PTE. LTD juga kepunyaannya. 

Luar biasa. 

Silakan kaget sebentar. Anak milenial punya kekayaan triliunan. 

Tarik nafas. Tenang. Kita coba hitung sama-sama. Bisa saja saya keliru, meskipun saya mengutip informasi dan dokumen resmi.

Tapi ingat. Tulisan ini bukan bermaksud melarang orang menjadi kaya. Pun, tidak menuduh serta-merta bahwa bisnis private equity dan praktik perusahaan cangkang pasti dan selalu jahat. Apalagi memburukkan bisnis jasa pendidikan.

Fokus kita adalah membendung transaksi jahat Rp5,6 triliun uang negara, berupa pembelian video pelatihan via platform digital, yang berbalut program prakerja. 

Jangan pakai uang negara untuk menggelembungkan valuasi korporasi!

Soal Belva, pertama-tama, kita cek modalnya. Dalam hal ini modal Ruang Guru.

Menurut akta terakhir 17 Maret 2020, struktur modal PT Ruang Raya Indonesia adalah: 

Modal dasar Rp2 triliun. Terdiri dari 20 juta lembar saham. Nilai per lembar Rp100 ribu.

Modal ditempatkan Rp649,4 miliar. Terdiri dari 6,49 juta lembar saham. Nilai per lembar Rp100 ribu.

Dari situ, Ruangguru PTE. LTD menguasai 99,9%. Yakni 6.494.309 lembar. Nilai Rp649,43 miliar.

Muhammad Iman Usman menguasai sisanya. 100 lembar senilai Rp10 juta. 

Belum tergambar bagaimana Rp1 triliun-nya Belva. 

Sekarang kita lihat struktur permodalan Ruangguru PTE. LTD yang terdaftar di Singapura. 

Sumber data dari The Accounting and Corporate Regulatory Authority (ACRA) Singapura.

Saham biasa (common stock). Jumlah 1.198.047 lembar. Nilai US$156.575,61 atau setara Rp2,4 miliar (kurs hari ini).

Preference stock. Jumlah 1.355.342 lembar. Nilai US$99.600.112,39 atau setara Rp1,55 triliun.

Belva tercatat sebagai direktur di Ruangguru PTE. LTD. Direksi lain adalah Saboo Ashish (India), Muhammad Iman Usman (Indonesia), Willson Cuaca (Indonesia), dan Seah Kian Wee (Singapura).

Ada 21 pemegang saham (perusahaan dan pribadi) di Ruangguru PTE. LTD. Belva salah satunya. 

Belva menguasai saham biasa (common stock) sebanyak 432.922 lembar (36%). Jika diuangkan, Rp792,1 juta.

Iman Usman juga segitu.

Ada nama WNI lain yakni Alvin Francis Tamie Loh (6.261 lembar saham biasa), Adilla Inda Diningsih (6.956 saham biasa), Aditya Liviandi (1.022 saham biasa).

Pemegang saham lain yang ‘berkuasa’ sebagian besar terdaftar di Cayman Island, British Virgin Island, dan sebagainya. 

Beberapa yang menguasai saham preference terbanyak adalah:

General Atlantic Singapore RG PTE. LTD (318.168 lembar), GGV VII Investments PTE. LTD (106.055 lembar), ASEAN China Investment Fund III L. P (397.335 lembar), Tanoto Foundation (45.977 lembar),  PT Nusa Jaya Cipta di Indonesia (95.683 lembar), Bali I Limited (59.109 lembar).

Sampai sini belum tergambar juga Rp1 triliun-nya Belva. 

Tapi, kita minimal tahu, di Ruangguru PTE. LTD, Belva hanya memegang saham biasa (common stock). Bukan preference stock. 

Hak keduanya tentu berbeda. Dalam hal suara, pembagian dividen, dan sebagainya.

Lanjut.

Di atas Ruangguru PTE. LTD, ada prinsipal lagi (holding company). 

Mari kita lihat General Atlantic yang pada 26 Desember 2019 menginjeksi US$150 juta (Rp2,3 triliun) ke Ruangguru. 

Lihat General Atlantic Singapore RG PTE. LTD. 

Modalnya terdiri dari common stock sebanyak 24.734.000 lembar senilai US$24.734.000. Preference stock sebanyak 49.469.000 lembar senilai US$49.469.000.

Direksinya ada dua orang: Izkandar Edward Heylett (Malaysia) dan Ong Yu Huat (Malaysia). 

Keseluruhan sahamnya (common dan preference) dikuasai General Atlantic Singapore Fund PTE. LTD.

Siapa sebenarnya General Atlantic ini?

Menurut Crunchbase, dia adalah perusahaan investasi yang berkantor di New York, AS. Dia telah menanam investasi di 242 perusahaan/start-up, termasuk Ruangguru.

Penghimpunan dana baru sekali melalui General Atlantic Investment Partners 2017 pada 5 April 2018. Besarnya US$3,3 miliar (Rp51,4 triliun). 

Jadi dana US$150 juta yang disuntikkan ke Ruangguru itu cuma 4,5% saja dari kekuatan modal dia sebenarnya.

Mari cek lagi siapa itu General Atlantic Investment Partners 2017 di United States Securities and Exchange Commision dalam “Notice of Exempt Offering of Securities”.

Yurisdiksinya di Delaware, AS. Nama CEO and Managing Director of the Managing Member of General Atlantic Investment Partners 2017 adalah William Ford. Dan masih banyak nama lain tercatat di situ.

Ya, dia jualan ‘kertas’ juga ke investor lain. Nilai yang ditawarkan adalah US$3,289 miliar. Komisi penjualan (sales commision) US$700 ribu.

Sampai di sini saja, kita akan pusing. 

Terlalu banyak cangkang untuk menutupi siapa sebenarnya pengendali Ruangguru. 

Terlalu rumit untuk menelusuri pola transaksinya. 

Itu semua ada arranger-nya. Ada orang-orang yang memang biasa berkecimpung di situ.

Sampai akhirnya pada Desember tahun lalu, ketika General Atlantic dikabarkan akan menginjeksi Ruangguru US$150 juta (dalam putaran pendanaan sebelumnya investor seperti Venturra Capital/Grup Lippo, UOB Venture, East Venture sudah mengucurkan dana ke Ruangguru), muncul berita di media massa: valuasi Ruang Guru diperkirakan tembus Rp7 triliun!

Entah bagaimana hitungannya. Tapi, opini publik dihembuskan saja dulu. Agar timbul spekulasi. Di mana ada spekulasi, di situ ada bisnis.

Sebuah start-up yang baru berdiri 2013, tiba-tiba valuasinya Rp7 triliun. Naik 29% dari modal dasar yang tertulis dalam akta. 

Luar biasa bluff-nya. Tanpa pernah kita tahu bagaimana dan berapa income sebenarnya yang riil, bagaimana fundamental keuangannya, apa saja risiko bisnisnya.

Terus, dari mana Rp1 triliiun valuasi surat berharga Belva itu?

Ya, jika valuasi Rp7 triliun itu dibandingkan dengan kepemilikan saham biasa Belva di Ruangguru PTE. LTD, berarti kepemilikan Belva 19%. 

Tapi, dia bilang kekayaannya Rp5 triliun, Rp10 triliun dan lebih tinggi lagi, juga bisa saja. 

Sekarang Belva bisa berkata kekayaannya Rp1 triliun. Lain waktu dia bisa digempur delusi oleh partner-partnernya sampai tinggal 0% dan pada akhirnya ‘anak bangsa’ bisa berakhir sebagai karyawan biasa di perusahaan yang dia dirikan sendiri.

Valuasi adalah persepsi. Belum tentu riil bisnisnya (income-expense) sebesar itu.

Di situlah media berperan untuk menggelembungkan persepsi. Di situlah makelar-makelar investasi bermain. 

Bayangkan jika Rp5,6 triliun uang negara dialirkan—melalui klik tangan peserta prakerja—-kepada perusahaan yang struktur permainannya seperti ini. 

Catat, bukan hanya Ruangguru. Sebagian besar dari 8 platform digital yang terlibat dalam prakerja, pola permainannya macam begini. 

Ayolah, Pak Presiden.

Rekening virtual atas nama peserta prakerja, yang CMS-nya dikelola oleh Manajemen Pelaksana, akan diaktifkan dengan cara memindahbukukan biaya pelatihan dalam rekening dana prakerja Rp5,6 triliun kepada platform digital. 

Itukah yang dibilang di media massa dengan bahasa, “Peserta memiliki kekuasaan penuh memilih video pelatihan”?

Jangan jadikan uang negara terlibat dalalm penggelembungan ‘bisnis jual-beli kertas’ dan permainan valuasi semacam itu.

Ini uang negara. Kita jaga sama-sama.

Jika yang diolah adalah uang swasta, terserah saja.

Salam 5,6 Triliun.

Agustinus Edy Kristianto adalah Founder & CEO Gresnews.com